Hidup untuk Bekerja?

HIDUP UNTUK BEKERJA?
Oleh: Joni

Sejak zaman perjanjian lama, manusia sudah dituntut untuk bekerja mencari rezeki dan menaklukkan bumi (Kej 3:17; Kej 1:28), tetapi sering kali kita hanya sekedar bekerja tetapi tidak tahu untuk apa tujuan kita bekerja. Terkait dengan tujuan dari bekerja ini, ada pertanyaan menarik ketika membaca salah satu artikel di tabloid Kontan yang berjudul “Bekerja untuk hidup atau Hidup untuk bekerja” yang ditulis oleh Arvan Pradiansyah. Meskipun artikel tersebut tidak menyinggung tentang kemiskinan, tetapi ada korelasi antara tujuan dari bekerja dengan tema APP tahun ini mengenai kemiskinan.

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa orang yang menganut paham “Bekerja untuk hidup” mempunyai pola pikir untuk hidup malas. Artinya apabila ada cara lain untuk bisa hidup, selain dengan bekerja, tentu orang-orang ini akan memilih cara lain yang lebih mudah maupun cara yang lebih instant. Katakanlah misalnya dengan bermalas-malasan saja orang bisa hidup, tentu mereka memilih untuk tidak bekerja. Dan kalaupun harus memilih bekerja, biasanya mereka akan menikmati hidupnya apabila sudah memperoleh pendapatan untuk bisa hidup, sehingga untuk sementara waktu tidak bekerja lagi.  Mereka akan kembali bekerja agar dapat hidup setelah pendapatannya telah habis digunakan. Faktor kemalasan inilah yang biasanya membuat orang-orang seperti ini akhirnya hidup dalam kemiskinan daripada harus bekerja dengan sungguh-sungguh.

Berbeda halnya dengan orang menganut paham “Hidup untuk bekerja”,  mereka memilih mengabdikan hidupnya untuk bekerja. Hidup mereka bukan hanya bekerja untuk menafkahi hidupnya, melainkan juga untuk berkarya bagi Tuhan dan melayani orang lain. Jadi mereka bekerja sepenuh hati untuk hidup yang lebih baik serta untuk berbuah bagi orang banyak (Yoh 15:16). Orang-orang seperti ini bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain serta memberikan dampak yang indah buat orang lain.

Pada dasarnya, setiap manusia pasti merasa senang apabila pekerjaan yang dilakukannya menghasilkan sesuatu yang produktif (berbuah). Tetapi jika pekerjaan yang dilakukan tidak berbuah, maka sia-sia saja kita bekerja meskipun dibayar dengan upah berkali-kali lipat. Maka kita bekerja tidak hanya sekedar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk kesejahteraan orang lain, menjadi berkat buat orang lain serta menghasilkan buah. Tuhan menginginkan agar keberadaan hidup kita senantiasa memancarkan kasih Kristus melalui sikap hidup dan tindakan kita dengan bekerja dan melayani sesama. Marilah kita Hidup untuk Bekerja dengan sungguh-sungguh dan berkarya bagi Tuhan serta melayani sesama untuk membantu memerangi kemiskinan yang ada di sekitar kita dan semuanya dilakukan untuk kemuliaan Tuhan (1 Kor 10:31).

“…Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Fil 1:22) ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: