Mengutamakan Allah lebih dari nyawa sendiri

Mengutamakan Allah lebih dari nyawa sendiri
Oleh: Joni

Setiap mahluk hidup pasti mempunyai naluri untuk menyelamatkan nyawanya. Saat menghadapi suatu bahaya, mereka segera refleks untuk melindungi dan menyelamatkan nyawanya. Bahkan mereka bersedia mengeluarkan segenap kemampuan dan harta bendanya demi menyembuhkan penyakit yang akan merenggut nyawanya. Nyawa sangat berharga bagi setiap orang karena kehilangan nyawa berarti mati. Maka orang rela mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan sebuah nyawa.

Pemikiran untuk menyelamatkan nyawa juga dipahami oleh murid Yesus dengan pola pikir duniawi yaitu berdasarkan kehendak dan keinginan pada murid sendiri. Tidak mungkin Yesus yang adalah Allah akan menderita dan kehilangan nyawa-Nya. Maka murid-murid tidak bisa menerima kenyataan apabila Yesus harus menderita dan mati karena mereka mengharapkan dan merindukan Mesias yang datang adalah Mesias yang berkuasa, yang menang atas bangsa Romawi sehingga bisa menguasai seluruh dunia.

Kenapa Yesus mau menyerahkan nyawa-Nya? Bukankah itu menjurus ke arah tindakan bunuh diri? Akan tetapi, apa yang dipikirkan Tuhan, kontras berbalik dengan apa yang dipikirkan manusia. Sebagai Allah dalam rupa manusia, Yesus mengekang diri-Nya untuk menggunakan kuasa keilahian-Nya secara bebas. Yesus hidup sebagai manusia dan mengalami kematian yang paling menyakitkan di atas kayu salib untuk menggenapi rencana keselamatan dari Allah. Itulah penyangkalan diri yang terbesar sepanjang sejarah hidup manusia. Oleh karena itu Yesus menegaskan agar siapapun yang mau mengikuti-Nya hendaklah memiliki kemampuan untuk menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri dan memikul salib berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri serta mengutamakan Allah lebih dari nyawanya sendiri. Jadi menyangkal diri dan memikul salib bukan sekedar mengalahkan ego dan kesenangan pribadi dengan cara berpuasa, berpantang merokok, berpantang melakukan sesuatu yang menyenangkan secara lahiriah, melainkan mau menyalibkan keinginan dan nafsu pribadi, bahkan bersedia mempertaruhkan nyawa demi kemuliaan Tuhan.

Maka dengan menyangkal diri, orang akan rela meninggalkan segala-galanya untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Pemahaman inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyampaikan misi kedatangan-Nya ke dunia ini. Ia sendiri mau menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia. Seluruh hidup-Nya adalah suatu penyerahan penuh untuk melakukan kehendak Bapa.

Jika Santo Paulus mengatakan ‘bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan’, apakah saya masih memilih mempertahankan nyawa demi ambisi memperoleh harta duniawi; atau mau menyerahkan nyawa untuk kemuliaan-Nya? ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: