Kunjungan Romo Agung ke Lingkungan MBR-4

Kunjungan Romo Agung ke Lingkungan MBR-4

Setiap daerah mempunyai ciri atau kekhasan tersendiri. Begitu pula dalam kehidupan gerejawi, setiap umat yang dihadapi oleh gereja pun berbeda-beda. Apalagi di dalam masyarakat yang heterogen dengan ragam budaya, tingkat kesejahteraan dan sosial yang bervariasi, kebutuhan untuk disapa dan dikunjungi sangatlah penting, khususnya bagi mereka yang tidak terperhatikan. Dalam rangka untuk lebih mempererat dan mendekatkan diri antara umat dan gerejanya, maka kunjungan pastoral adalah tindakan nyata keterlibatan gereja dalam melayani sesama. Perhatian dan pelayanan sekecil apapun kepada mereka yang sakit, kesepian, dan tidak terperhatikan, sangat memberikan penghiburan.

Dalam kunjungannya ke lingkungan MBR 4 pada tgl 3 Maret 2011, Romo Agung meluangkan waktunya untuk berkunjung 2 kali dalam satu hari. Pada kunjungan pertama di pagi hari, Romo Agung yang didampingi beberapa ibu-ibu MBR 4, mendatangi sekitar 20 rumah warga, serta mampir ke rumah warga untuk memberkati anak kecil, lansia, warga yang sakit dan mendoakan seorang ibu yang sedang hamil agar proses persalinan berjalan lancar serta bayi bisa lahir dalam kondisi sehat. Kemudian pada malam harinya, Romo Agung sengaja datang lebih awal dan menyempatkan lagi waktunya untuk berkunjung ke 2 rumah warga. Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan dan katekese dari Romo Agung. Sekitar 26 warga MBR-4 berkumpul di rumah dr Ratna untuk mendengarkan dan bertanya jawab dengan Romo.

1 Kunj Pastoral MBR4   2 Kunj Pastoral MBR4

Di awal perkenalannya, Romo yang bernama lengkap Yohanes Alexander Agung Prasetijo Tjahjono O.Carm, menjelaskan namanya diambil dari Gunung Agung di Bali yang meletus pada tahun 1963 sesuai tahun kelahirannya. Romo mulai bekerja di paroki pada tgl 15 Okt 2009. Beliau mengatakan masih harus banyak belajar untuk menggembalakan umat di paroki. Maka beliau merasa sangat senang bisa mengunjungi umat dan mendengar cerita dari tiap-tiap umat yang bisa meneguhkan. Selanjutnya romo mensosialisasikan hasil SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia). SAGKI yang elemennya terdiri atas umat, biarawan/i, pastor, uskup dan kardinal dari seluruh Indonesia, dulunya membahas ilmu pengetahuan melalui metode seminar, tetapi sejak Nov 2010 kemarin diganti metodenya berupa narasi. Mengapa menggunakan narasi? Karena efek dari narasi/cerita itu sangat luar biasa dimana orang lebih senang mendengarkan cerita, lebih mudah memahami dan gampang diingat. Untuk itu umat diharapkan bisa menanamkan iman kepada orang lain melalui cerita. Bercerita pengalaman akan Allah, tidak hanya dilakukan kepada sesama Katolik saja tetapi harus berani keluar dan bercerita dengan umat lain.

Kunjungan pastoral ini sangat memberikan pengalaman yang berharga, sekaligus memberi ruang dan kesempatan kepada umat untuk ikut serta ambil bagian dalam melayani sesama di lingkungan. Kunjungan ini dapat mengisi kekosongan hati orang yang kesepian serta memberikan penghiburan kepada umat yang jarang disapa. Bersama Gereja, lingkungan juga di panggil untuk melanjutkan pelayanan Kristus. Maka marilah kita investasikan waktu dan tenaga untuk melayani umat di lingkungan kita, menyapa dan menjangkau mereka yang membutuhkan, menunjukkan pada mereka kasih dan perhatian kita. Kita wujudkan cinta kasih Yesus melalui pelayanan kita kepada sesama karena iman kita kepada Allah terbukti sewaktu kita melayani dengan sikap peduli. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: