Menolak Yesus?

Menolak Yesus?

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pasti pernah melakukan penolakan. Ada yang menolak untuk menjadi ketua lingkungan, ada pula yang menolak ketika ditawari bantuan atau pertolongan. Banyak alasan orang menolak sesuatu, misalnya karena tidak percaya, ragu-ragu, belum siap, ataupun karena belum butuh suatu produk yang ditawarkan kepadanya. Tidak sedikit pula orang yang menolak hasil karyanya sendiri karena lebih menghargai dan mengagumi karya orang lain. 

Ketika Yesus kembali ke tempat asal-Nya di Nazaret dan mengajar di rumah ibadat, banyak orang yang takjub mendengar-Nya (Mrk 6:2). Mereka semua heran dan kagum akan pengajaran Yesus. Tetapi yang ironis, para pendengar tidak hanya takjub dan terkesan, melainkan mereka menunjukkan reaksi tidak percaya. Mereka pun bertanya-tanya: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya ini? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Akhirnya kekaguman mereka beralih dengan cepat menjadi kekecewaan dan penolakan.

Mengapa reaksi penduduk Nazaret begitu cepat berubah? Dari takjub dan kagum, tiba-tiba malah menjadi kecewa dan menolak-Nya? Gambaran Yesus sebagai anak tukang kayu membuat para penduduk Nazaret menganggap Yesus hanya orang biasa-biasa saja, bukan seseorang yang mempunyai kedudukan atau jabatan penting. Mereka seolah-olah sudah sangat mengenal Yesus di kampung halaman-Nya sendiri. Walaupun sangat terkesan dengan kemampuan-Nya berbicara, mereka tidak menerima Yesus sebagai Anak Allah yang diurapi, tetapi mencap Ia hanyalah anak seorang tukang kayu. Mereka menilai Yesus bukanlah seorang tokoh penting, sehingga rasa percaya dan kagum menjadi luntur. Ketidakpercayaan mereka lalu ditunjukkan dengan menolak Yesus dari Nazaret. Mereka gagal melihat Yesus sebagai Anak Allah, karena terperangkap dalam pola pikir yang mereka buat sendiri mengenai latar belakang Yesus.

Dan yang lebih mengejutkan bukan terletak pada penolakan Yesus oleh para penduduk Nazaret, tetapi ketidakmampuan Yesus mengadakan mujizat di tengah-tengah mereka. Apakah Yesus tidak mampu membuat mujizat di kampung halaman-Nya? Ternyata kedangkalan iman para penduduk Nazaret sendirilah yang menyebabkan mujizat tidak bisa terjadi di sana. Meskipun mereka telah mendengar mujizat-mujizat kesembuhan yang dilakukan-Nya di kota-kota lain, mereka tak percaya bahwa Yesus punya kuasa menyembuhkan. Karena mereka tak memiliki iman, mereka membatasi-Nya agar tak melakukan mujizat ataupun kesembuhan besar.

Tanpa iman, setiap mujizat kehilangan maknanya. Dengan menolak Yesus, menunjukkan bahwa para penduduk Nazaret menutup hati untuk mendengarkan Sabda Allah. Mereka yang awalnya terkesan dengan pengajaran Yesus, menjadi tidak percaya dan menolak Yesus hanya karena penilaian yang mereka berikan kepada Yesus. Mereka membatasi Allah berdasarkan konsepnya sendiri tentang Allah, padahal bagi Allah tidak ada yang mustahil. Apakah dalam hidup ini, saya sering menilai orang berdasarkan tempat asal dan latar belakang keluarganya? ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: