Perkataan yang keras

Perkataan yang keras

Di dunia ini manusia tidak dapat hidup sendiri, karena itu disebut sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, perkataan memegang peranan penting dalam interaksi antar umat manusia. Mengapa penting? Karena melalui perkataanlah orang-orang dapat mengungkapkan isi hatinya maupun menyampaikan pendapatnya. Setiap perkataan yang diucapkan bisa mempengaruhi orang lain, ada yang bisa membuat orang senang, tertawa, sedih bahkan ada pula yang bisa membuat orang menjadi percaya dan mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tersebut.

Akan tetapi perkataan Yesus mengenai roti hidup (Yoh 6:51), membuat orang Yahudi dan para murid tidak mampu mengerti apa yang dikatakan-Nya. Hal ini membuat iman mereka luntur sehingga banyak yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Bahkan salah satu dari kedua belas murid yang bernama Yudas Iskariot pun tidak percaya dan akhirnya mengkhianati-Nya. Padahal sebelumnya mereka telah menyaksikan sendiri begitu banyak mujizat yang telah dibuat oleh Yesus, mulai dari menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang dan berjalan di atas air. Tetapi hanya karena perkataan keras tersebut, murid-murid menjadi tidak percaya dan bersungut-sungut.

Perkataan Yesus manakah yang keras sehingga menggoncangkan iman pada murid-murid? Bukankah Yesus mengajarkan cinta kasih dan kelemahlembutan? Kenapa perkataan Yesus bisa sekeras ini? Bagi bangsa Yahudi, perkataan Yesus diartikan secara harafiah sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi. “Bagaimana Ia menyerahkan Tubuh-Nya untuk dimakan? Bukankah Ia anak Yusuf? Mengapa Ia 
mengatakan telah turun dari surga dan akan naik kembali ke rumah Bapa?” Reaksi-reaksi tersebut muncul karena mereka tidak bisa memahami perkataan Yesus. Bagi bangsa Yahudi, makan daging manusia adalah bentuk kanibalisme dan minum darah manusia adalah hal yang tabu bagi bangsa Yahudi. Maka perkataan Yesus dianggap omong kosong oleh mereka, karena tidak masuk akal.

Padahal jika mau dipahami berdasarkan kacamata iman, maka perkataan Yesus mau mengungkapkan cinta kasih Allah yang luar biasa kepada umat manusia. Allah mengutus Yesus ke dunia ini, 
mengorbankan Anak-Nya yang tunggal yaitu tubuh Yesus sendiri untuk keselamatan manusia. Bahkan memberikan kehidupan kekal bagi yang percaya dan mau bersatu dengan tubuh Kristus. Jadi bukan 
sekedar roti yang mengenyangkan melainkan roti hidup yang memberikan kehidupan kekal karena barang siapa makan daging Yesus, ia akan hidup oleh Yesus.

Perkataan ini juga menjadi dasar Alkitab yang menyatakan Yesus hadir di dalam Ekaristi. Roti hidup melambangkan tubuh Yesus sendiri yang dibagi-bagikan untuk manusia, merupakan ungkapan cinta 
kasih-Nya kepada umat manusia, sekaligus mengajak umat manusia agar saling mengasihi karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling tergantung satu sama lain. Jika demikian, 
sudahkah perkataan Yesus yang saya imani, tercermin dalam tutur kata dan perbuatan saya untuk saling mengasihi dan mau berkorban bagi sesama manusia? ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: